Banyak orang mengira manusia selalu memilih berdasarkan kebenaran.
Padahal dalam kehidupan sosial, rasa aman sering kali lebih berpengaruh daripada kebenaran itu sendiri. ðŸ§
Psikolog Solomon Asch pernah melakukan eksperimen tentang konformitas sosial. Dalam eksperimen tersebut, seseorang berada di dalam kelompok yang sengaja memberikan jawaban salah. Menariknya, banyak peserta akhirnya ikut memberikan jawaban yang sama meskipun sebenarnya mereka tahu jawaban itu keliru.
Fenomena tersebut diperkuat oleh pemikiran dalam bukunya The Social Animal. Aronson menjelaskan bahwa manusia sering dipengaruhi lingkungan sosial bahkan tanpa menyadarinya. Dalam banyak situasi, rasa diterima oleh kelompok terasa lebih aman daripada mempertahankan pendapat sendiri.
Sementara itu, melalui Social Comparison Theory menjelaskan bahwa manusia cenderung membandingkan diri dan pendapatnya dengan orang lain untuk menentukan apa yang dianggap benar atau normal.
Di era media sosial, fenomena ini menjadi semakin kuat.
Jumlah likes, komentar, dan dukungan publik sering mempengaruhi cara seseorang melihat sebuah opini. Semakin banyak orang mempercayai sesuatu, semakin mudah orang lain ikut mempercayainya.
Karena pada akhirnya, manusia bukan hanya mencari kebenaran, tetapi juga mencari rasa aman dalam kelompok sosialnya.
“Kadang manusia tidak mengikuti kebenaran, tetapi mengikuti rasa aman”.
Referensi bacaan:
📖 The Social Animal — Elliot Aronson
📖 Social Psychology — David Myers
📖 Thinking, Fast and Slow — Daniel Kahneman
📖 Penelitian Konformitas — Solomon Asch (1951)

Posting Komentar