Bagi sebagian laki-laki dewasa, merokok atau ngudud (bahasa Jawa) dan ngopi merupakan pasangan yang serasi, ibarat nasi dengan lauk pauknya, bila tidak ada salah satunya terasa kurang lengkap. Dari aktivitas ngudud dan ngopi terciptalah berlembar-lembar puisi, terciptalah aksi demonstrasi dan revolusi, atau setidaknya bagi yang putus cinta jadi gagal melakukan bunuh diri.
Namun ketika seorang bapak atau suami ngudud di teras rumah di malam hari, fix, jangan diganggu, dia kemungkinan sedang asoh (ngolah roso) sambil mengatasi dan merenungi kepahitan hidupnya.
“Merokok (ngudud) dalam pengertian batiniah”
Orang Jawa menyebut tembakau dengan sebutan bako. Kata bako, dalam bahasa Arab, kata yang mirip bunyinya—baqo— artinya kekal, abadi. Baqo adalah salah satu dari dua puluh sifat wajib Tuhan. Yang mungkin dahulu sering kita dengar dalam pepujian setelah adzan berkumandang di kampung-kampung; wujud, qidam, baqo, mukholafatul lil hawditsi, qiyamuhu binafsihi dst. Tuhan itu baqo atau kekal, selama-lamanya tanpa akhir. Yang selain Tuhan itu fana, rusak, tidak abadi. “Menarik, bukan?”. Pada sebatang rokok yang fana, ternyata justru menyimpan makna tentang keabadian.
Merokok dalam pengertian batiniah, bisa dimaknai sebagai aktivitas menghisap “yang baqo” atau “yang abadi”, dengan kata lain: memasukkan “yang ilahi” ke rongga dada -ke dalam hati-, karena hati bukanlah tempat bagi kefanaan (dunia). Hati adalah rumah bagi Kesejatian, wadah bagi Kesucian. Dalam serat Sabda Jati di kitab primbon Attasadur Adammakna, rongga dada (hati) disebut sebagai baitulmuharram (rumah yang haram dihuni oleh siapapun kecuali sang pemilik hati itu sendiri yaitu Tuhan). Oleh karenanya, kalangan sufi dengan tegas menyatakan “haram” memasukan dunia ke dalam hatinya. Ali bin Abi Thalib mengatakan, telah aku ceraikan dunia dari dalam hatiku dengan talak tiga.
Sering pula dikatakan oleh tokoh agama, dunia ini fana dan sementara. Tapi tidak aneh, bagi manusia modern saat ini justru sering menempatkan dunia (hubbdunya) itu ke dalam hatinya. Ketika dunia sudah tertanam terlalu dalam di dada, tak heran manusia pun jadi homo ekonomikus (meminjam istilahnya Adam Smith, bapak kapitalisme modern) yaitu manusia yang tujuan hidupnya semata-mata pada faktor ekonomi. Sehingga wajar manusia modern disebut pula sebagai homohomini lupus, manusia yang rakus dan serakah, menghalalkan segala cara demi kepentingan ekonomi, proyek, politik kekuasaan, dll.
Maka di sini perlunya udud, udut atau odot, yang artinya menarik atau mencabut dengan perlahan. Cabutlah paku dunia yang telah menancap ke dalam hatimu itu. Agar dada kembali lapang. Kata Mbah Nun, Emha Ainun Nadjib: “letakkan dunia hanya di genggaman tanganmu, jangan taruh ia hatimu”.
*
Aktivitas ngudud/ngudut/ngodot dalam pengertian batiniah punya dua makna, yaitu mencabut dan menarik, membuang dan mengisi. Mencabut kerak-kerak dunia yang telah menodai hati dan membuangnya jauh-jauh. Kemudian menarik “yang iIahi” untuk mengisinya ke dalam hati. Ududlah nilai-nilai Ilahi itu sampai merasuk ke dalam aliran darahmu, menyatu di detak jantung dan hatimu. Mungkin itulah pesan yang bisa diambil dari makna filosofi ngudud. Ngudud adalah peristiwa sakral, sebuah laku spiritual pembersihan hati. Asap yang mengebul ke langit ialah sebuah harapan agar doa-doa cepat terkabul, agar kepahitan hidup lekas teratasi. Ngebul maknanya qobul.
Oleh sebab itu, menjadi perokok dalam pengertian batiniah ialah menjadi seorang salik, seorang manusia ilahi (homo divinus-religiosus, bukan homo ekonomikus). Homo divinus ialah manusia yang hatinya telah terisi dengan yang ilahi, inilah yang mungkin dikatakan kitab suci sebagai manusia yang telah mencapai tahap kesempurnaan. Insan kamil. Lalu Tuhan menjadi tangannya, yang dengan tangan itu ia menyentuh, Tuhan menjadi mulutnya yang dengan mulut itu ia berbicara, Tuhan menjadi kakinya yang dengan kaki itu ia berjalan, dan seterusnya.
Tentunya sangat sulit menjalani laku ngudud dalam pengertian batiniah ini, namun paling tidak dengan sambil ngudud, dapat menghasilkan sebuah karya puisi itu sudah lumayan.
Makna ngopi
Karena katanya, hidup itu ujian. Maka, ngopi dalam pengertian batiniah merupakan bentuk laku prihatin; belajar untuk menelan kepahitan-kepahitan hidup, dan tetap menjalaninya dengan sukur dan sabar. Menerima apa yang sudah digariskan Tuhan. Kata orang tua dulu, siapa yang gemar laku prihatin, maka mata batinnya jadi melek/terjaga/waspada. Tidak gampang tersulut emosi dan mengikuti hawa nafsu.
Ngopi juga memiliki makna filosofis, yaitu mengolah pikir dan hati. Mengolah pikir berkaitan dengan aktivitas berpikir secara mendalam atau “berfilsafat”, mengolah hati atau mengolah rasa/ngolah roso terkait dengan latihan pembersihan hati atau “bertasawuf”. Hasil dari olah pikir dan hati ini ujungnya ialah kebijaksanaan dan cinta. Sementara, orang yang pandai mengolah pikir dan hati disebut filsuf atau sufi. Tentu, ngopi itu enaknya dibarengi sambil istirahat. Yang dalam bahasa Jawa, istirahat disebut ngaso. Ngaso yaitu ngaji roso atau ngaji rasa. Kalau olah rasa lebih ke latihan dan pengendalian, kalau ngaji rasa lebih ke pemahaman dan perenungan (mulat sarira).
Di zaman dimana semakin pintarnya akal imitasi, ngolah pikir dan hati menjadi sesuatu yang malas dilakukan manusia modern; di media sosial banyak kita temukan cacian dan makian, lebih-lebih dalam berpolitik. Padahal dengan mengolah pikir dan hati dapat menjaga kewarasan manusia di tengah-tengah kepungan zaman yang makin edan. Ngolah pikir dan hati membawa pada sikap hidup untuk selalu eling dan waspada. Sesuai pesan sang pujangga Jawa, Ronggowarsito, untuk menghadapi zaman edan kita perlu sikap “eling lan waspada”. Eling yaitu suatu kesadaran ingat pada Tuhan dan waspada artinya suatu sikap berhati-hati dalam menjalani hidup. Agar manusia tidak ikut-ikutan menjadi edan.

Ngudud ma ngopi karna gk ada kerjaan aja wkwk
BalasHapusJd bs nemanin ngelamun bnyk hal😅🤣
HapusKasihan jomblo judulnya kelihatan banget, ditunggu tulisan selanjutnya
BalasHapusYg nulis dh nikah kak😅🙏
Hapus