Modern(isme), Manusia Satu Dimensi dan Pesan Ronggowarsito Menghadapi Zaman Edan

Esai Modern(isme), Manusia Satu Dimensi dan Pesan Ronggowarsito Menghadapi Zaman Edan oleh Giri Samara


Dalam magnum opus-nya yang berjudul Also Sprach Zarathustra, Nietzsche mengatakan tentang kematian Tuhan dalam sebuah aforisma: “Tuhan telah mati”, dan kitalah (manusia) yang membunuhnya, pungkasnya. Tentu aforisma tersebut merupakan metafor, bukan berarti ditujukan pada Tuhan yang absolut pencipta langit dan bumi. Metafor tersebut merupakan gambaran atas kondisi zaman dimana manusia telah kehilangan pedoman hidup sehingga manusia berada dalam jurang dekandensi, yang dalam bahasa Nietzsche digambarkan seperti bumi yang kehilangan matahari (St. Sunardi, 2006).

Di sebuah peradaban yang menjujung tinggi nilai rasionalitas dan semakin pintarnya akal imitasi, aforisma “Tuhan telah mati” itu nampaknya masih berlaku atas kondisi masyarakat yang membawa semangat modern hari ini. Modern artinya sebuah bentuk kesadaran tentang ke-baru-an. Sementara, modernitas adalah keadaan sosial-budaya yang lahir dari proses modernisasi. Ketika mendapat imbuhan -isme, maka modernisme berarti suatu gerakan pemikiran yang menegaskan nilai-nilai rasionalitas, orisinalitas, proyeksi masa depan dan sebuah antitesis terhadap tradisi lama. Modern, modernitas dan modernisme memiliki perbedaan dalam bentuk dan ruang geraknya, namun memiliki kesamaan dalam semangat dasarnya. Semua berangkat dari kesadaran tentang ke-baru-an,  menata dunia dengan cara yang baru, yang pada gilirannya mengandaikan Kemajuan (Hardiman, 2007). Kemudian muncullah aliran-aliran seperti rasionalisme, empirisme, positivisme, dll. Spirit modernisme ini tentunya berakibat pada pengabsorpsian terhadap -yang metafisika-, ajaran leluhur, dan mendiskreditkan nilai-nilai religiositas; agama adalah musuh kemajuan (Holbach), agama adalah keluhan makhluk yang tertekan, agama adalah candu (Marx), agama adalah mimpi akal manusia (Feurbach), beragama adalah bentuk keterbelakangan (Comte). Sartre menyatakan dengan tegas bahwa manusia modern harus menghadapi fakta bahwa tuhan tidak ada (Martin, 2003).

Struktur dunia modern mengalihkan kesadaran manusia dari hal-hal yang mistis beralih kepada hal-hal yang material, empiris, positivistik. Mistis yang dimaksud bukanlah klenik, tetapi kesadaran akan Kenyataan Tunggal (Schimmel, 2000). Konsekuensi dari spirit modernisme melahirkan apa yang disebut Herbert Marcus, sebagai “manusia satu dimensi” -one dimensional man-, yaitu manusia yang berpikir dan bertindak hanya dalam satu dimensi di mana setiap aspek kehidupannya diarahkan pada satu tujuan belaka, yaitu materi. 

Wujud nyata dari one dimensional man ini ialah homo economicus atau manusia ekonomi. Menurut Adam Smith, Bapak Kapitalisme Modern, manusia adalah binatang yang gelisah dan sudah menjadi khuluq manusia untuk menjadi homo economicus; manusia ekonomi sebagai makhluk rasional yang didorong oleh kepentingan pribadi untuk selalu memperoleh kepuasan dan hasil sebesar-besarnya (Deliarnov, 2006). Homo economicus tak lain ialah manusia modern itu sendiri. 

Diktum Descartes yang berbunyi -aku berfikir maka aku ada- (cogito ur go sume), untuk zaman hari ini diktum tersebut telah berevolusi menjadi, contohnya; aku berbelanja maka aku ada, aku bermedsos maka aku ada, aku berpangkat/bergelar maka aku ada, dst. Yang menurut pandangan masyarakat modern itulah manusia unggul. Manusia modern merasa menemukan kebahagiaan atau mendapatkan eksistensinya ketika ia sedang berbelanja. Dan kebahagiaan pun pada akhirnya berujung pada ditentukan oleh kepemilikan materi semata. 

Peradaban modern telah menggiring manusia dalam bentuk perbudakan baru, yaitu budak dari berhala materialisme.

Manusia modern, manusia yang cara mengada dan beradanya ditentukan oleh faktor materi, atau dalam istilah Yasraf disebut libidonomic. Kesadaran manusia di berbagai bidang kehidupan ditentukan oleh keadaan ekonomi, wajarlah bila dalam hal etika, manusia modern –meminjam istilahnya Hobbes- disebut homo homini lupus, manusia serigala yang rakus, manusia yang tidak pernah merasa terpuaskan atas pencapaian dunianya. Cara pandang (epistemologi) homo economicus akan melahirkan etika (aksiologi) homo homini lupus dan hukum survival of the fittes. Iklim zaman menjadi tribalis dan bar-bar. Yang kuat yang menang, yang lemah tertindas.

Akibat semua itu manusia jadi lupa hakikat diri, lupa akan sangkan paran (asal-usul) untuk apa diciptakan. Manusia teralineasi dari Tuhannya dan dari dirinya sendiri. Mahatma Ghandi pernah menyinggung peradaban barat modern dengan mengatakan, “orang barat mengenal dunia dengan baik namun gagal memahami dirinya sendiri. Sebagai akibat dari keterasingan diri sendiri, mereka telah merusak diri dan sekaligus dunia” (Syariati, 1983). Peradaban modern kehilangan jaminan dan pegangan untuk memahami diri dan dunia tempat ia berpijak. 

Pun munculnya posmodernimse tidaklah menjadi solusi atas krisis modernitas. Justru kehadiran posmodernisme merupakan wajah baru dari modernisme itu sendiri, yang dikatakan Habermas sebagai proyek modernisme yang belum selesai. Artinya, meskipun dikatakan zaman hari ini sebagai zaman posmodern tapi tetap saja semangatnya berbasis pada semangat modernisme. Hingga pada gilirannya gerak sejarah berujung pada nihilisme dan absurditas (meminjam istilah Camus). 

Eling dan Waspada

Sekitar dua ratus tahun silam, seorang ulama sekaligus pujangga Jawa, Ronggowarsito, telah meramalkan akan datangnya zaman edan, sebuah zaman yang penuh kebimbangan (kalatida) dan amarah (kalabendu). Dikarenakan manusia tidak berpegang pada tatanan luhur yang mengakibatkan semakin pudarnya budi pekerti. 

Andjar Any, dalam bukunya yang berjudul Rahasia Ramalan Jayabaya, Rangga Warsito dan Sabdopalon, menuliskan tentang ciri-ciri zaman edan. Dicirikan dengan tiga hal yaitu artati, nistono, jutyo. Artati, bisa diartikan sebagai hubbudunya, aktivitas hidup manusia hanya untuk pencapaian dunia semata. Nistono yang berarti kemalaratan sehingga banyak orang berbuat nista karena dikuasai nafsu serakahnya. Jutyo yaitu banyak terjadi kejahatan di mana-mana. Dalam serat Sabda Jati Ronggowarsito mengatakan. “para jalma sajroning jaman pakewuh; sudranira andadi; rahurune saya andrung; keh tyas mirong murang margi; kasekten wus nora katon.”  “Manusia yang hidup di dalam jaman kerepotan, cenderung meningkatnya perbuatan-perbuatan tercela, makin menjadi-jadi, banyak pikiran-pikiran yang tidak berjalan di atas rel kebenaran, keagungan jiwa sudah tidak tampak.”

Zaman modern hari ini pantas disebut zaman edan, mungkin lebih edan dari eranya Ronggowarsito dan Nietzsche. Modernisme telah menciptakan mitos baru; kemajuan yang dicita-citakan pada hakikatnya kemunduruan, pencerahan (enlightment) yang digembar-gemborkan sebenarnya penggelapan. Peradaban modern tidak membangun rumah yang nyaman bagi hati nurani. Ia tampak megah namun menyimpan kekosongan di relung terdalam batin manusia. Manusia modern kehilangan jati dirinya, karena terjebak dalam dimensi material.

Untuk menghadapi zaman edan yang makin bringas dan tak menentu atau jagernout (dalam istilahnya Antony Gidden), perlunya kembali pada nilai-nilai (le)luhur, seperti pesan yang disampaikan Ronggowarsito agar kita selalu eling lan waspada. Dalam serat kalatida sang pujangga mengatakan, “amenangi jaman edan; ewuh aya ing pambudi; melu edan ora tahan; yen tan melu nglakoni; boya kaduman melik; kaliren wekasanipun; endilalah karsa Allah; begja-begjane wong kang lali; luwih begja wong kang eling lawan waspada".  Artinya; “hidup di zaman edan memang repot. Akan mengikuti tidak sampai hati, tetapi kalau tidak mengikuti geraknya zaman tidak mendapat apapun juga. Akhirnya dapat menderita kelaparan. Namun sudah menjadi kehendak tuhan. Bagaimanapun juga walaupun orang yang lupa itu bahagia namun masih lebih bahagia lagi orang yang senantiasa eling (ingat) dan waspada.”(Purwadi, 2005) 

Eling artinya suatu bentuk kesadaran akan -yang ilahi-. Eling terkait juga dengan pengetahuan tentang diri, agar manusia mengetahui dirinya dari mana ia berasal, untuk apa ia diciptakan, dan akan kemana setelahnya. Kesadaran eling itu kemudian membentuk diri manusia dalam cara meng-ada di dunia.  Waspada yaitu membawa diri pada sikap hidup kehati-hatian, atau kata falsafah jawa, ngono yo ngono mung ojo ngono, agar manusia tidak menjadi floating mass atau masa yang mengambang terombang-ambing geraknya zaman yang makin hari semakin bringas. 

Barangkali, menjadi manusia yang eling dan waspada di zaman edan bukan sekedar bertahan waras,  melainkan menjaga nyala kesadaran agar tak padam di tengah arus kemajuan. 

Foto Penulis

Ditulis oleh :

Giri Samara
Filosof dan penyair. Bergiat di Komunitas Falsafatuna Pustaka Jakarta

Posting Komentar