Seni Hidup Minimalis

Esai Seni Hidup Minimalis oleh In'amu Dzakky


Life is really simple, but we insist on making in complicated.” - Confucious

Hidup itu sangat sederhana, tapi kita bersikeras membuatnya rumit

Dalam buku Break The Twitch, Minimalis di artikan sebagai gaya hidup yang berfokus pada meminimalkan gangguan atau distraksi yang dapat membuat kita melakukan hal yang penting-penting saja. Sedangkan Joshua Backer penulis Becoming Minimalist, mendefinisikan minimalis adalah tentang mendapatkan apa yang membuatmu bahagia, dan menghilangkan apa yang membuat kita tidak bahagia. Praktis dan sederhana. Ketika menerapkan hidup minimalis artinya kita menyederhanakan hidup untuk sebuah kualitas. 

Banyak barang, banyak tanggung jawab. Banyak tanggung jawab mendatangkan banyak masalah. Sadar ga sih, bahwa setiap barang yang kita miliki memerlukan tanggung jawab baru, Jika barang baru tersebut di beli dari kredit. Maka setiap bulan tentunya akan membutuhkan sebagian penghasilan untuk membayarnya. Sementara kesenangan dari memiliki barang baru tersebut mungkin hanya dapat  dirasakan pada saat itu saja, perasaan yang paling buruk adalah saat barang tersebut sudah tidak begitu menarik atau tidak bermanfaat lagi, namun kita masih membayar cicilannya setiap bulan.

Memiliki barang berarti juga harus menyimpannya. Jika hobi berbelanja pakaian berarti perlu lemari yang besar, jika hobi mengoleksi buku, tentu perlu juga almari buku yang aman untuk penyimpanan, jika hobi bergonta-ganti sepatu, maka tentu kita perlu membutuhkan lemari yang memuat banyak sepasang sepatu. Masalah penyimpanan ini terlihat sepele, hingga lemari penyimpanan penuh, belum lagi masalah perawatan, laundry pakaian, sol sepatu yang lepas, barang-barang yang berdebu, perawatan mesin kendaraan, serta servis rutin. Semua perawatan ini bukan hanya membutuhkan tenaga, tetapi juga waktu dan biaya.

Tanggung jawab lainya adalah menjualnya kembali bukan perkara yang mudah, memberikan kepada orang lain sementara membuangnya tidak sampai hati, akhirnya menyimpan barang tersebut di gudang hingga bertahun-tahun dan pada akhirnya berakhir di tempat sampah.

Gaya hidup minimalis mencegah stress

Mereka yang mempraktekkan hidup minimalis sangat mempercayai  bahwa banyaknya barang justru menambah stress, dan sebaliknya menerapkan hidup minimalis justru mengurangi stress dan menambah kebahagiaan. Bagaimana tidak, secara finansial keuangan mereka lebih hemat karena tidak mengeluarkan uang untuk hal-hal yang kurang penting, sehingga mereka lebih memiliki tabungan yang lebih banyak, dan perasaan yang lebih aman dari kesulitan ekonomi. Mereka hidup apa adanya dan tidak memaksakan diri. Menerapkan hidup minimalis berarti memiliki lebih banyak ruang yang nyaman untuk bergerak, rumah tidak penuh dengan barang-barang dan lebih leluasa dalam beraktifitas

Dari segi waktu, hidup minimalis juga membuat seseorang terbebas membersihkan, merapikan atau merawat banyaknya barang, hingga bisa menikmati akhir pekan untuk istirahat dan berasantai dengan keluarga, bukan seringnya membereskan dan membersihkan barang. “Your home should be antidate to stress not the cause of it”. Rumahmu seharusnya menjadi penangkal stress, bukan penyebabnya – Peter Woish. 

Memulai hidup minimalis

Untuk memulai hidup minimalis perlu tekat yang  cukup kuat, apalagi kalau kita tipe orang yang konsumtif, perlu merubah mindset bahwa kita hanya perlu memiliki barang yang benar-benar kita butuhkan dan memberi arti untuk kita. Namun, bagian terberatnya adalah merelakan barang-barang yang tidak bermanfaat

    1. Kenali diri 

Kita perlu mengenali diri lebih baik, untuk megetahui apa saja yang kita butuhkan barang apa saja yang akan membantu kita dan barang apa saja yang justru  merepotkan. Profesi, hobi, dan aktifitas sehari-hari menjadi pertimbangan besar dalam menentukan barang-barang ini.

    2. Decluttering 

Adalah kegiatan memilah-milah barang, kita perlu membersihkan barang-barang yang memang tidak kita perlukan. Souvenir kegiatan, buku lama, pakaian yang tidak muat, sepatu yang tidak nyaman, perawatan tubuh yang expired, peralatan elektronik yang tidak dapat menyala. Kita tidak harus membuangnya, untuk barang yang masih dalam kondisi cukup baik bisa kita jual atau memberikan kepada orang yang berkenan. Kegiatan ini perlu di lakukan setidaknya 5 atau 6 bulan sekali.

    3. Merelakan barang

Memang tidak mudah, apalagi bila ada cerita emosional dibalik barang tersebut (Contoh; pemberian mantan terindah eaa) namun rumah bukanlah museum tempat menyimpan barang bersejarah. Kita perlu berfikir rasional, apakah barang tersebut benar-benar berharga untuk di simpan. Kita bisa membuat foto atau video yang menceritakan barang tersebut lalu mengunggahnya di media sosial jika ingin mengenangnya

Just because something made you happy in the past, doesn’t mean you have to keep it forever” Melva Green. Hanya karena sesuatu membuatmu bahagia di masa lalu, bukan berarti kamu harus menyimpan selamanya.

    4. Memiliki barang sesuai kebutuhan

Selanjutnya, perlu memastikan bahwa barang yang masuk ke dalam rumah adalah barang-barang yang benar-benar kita butuhkan, baik barang yang didapatkan dari membeli ataupun mendapatkannya secara gratis. Memang ada kebahagiaan tersendiri ketika bisa membeli barang tanpa mengeluarkan uang, namun sebenarnya inilah tantangannya.

    5. Membeli barang berdasarkan kualitas

Pernah membandingkan kualitas elektronik dengan harga murah dan harga wajar, berapa lama masa pakainya? Barang yang murah seringkali memiliki kualitas dan bahan yang kurang baik, sehingga waktu pemakaianya lebih singkat. Selalu utamakan kualitas dalam membeli barang, ini bukan berarti kita harus membeli barang yang mahal dengan fitur yang paling lengkap. Kita bisa membeli barang dengan spesifikasi sesuai kebutuhan dan dengan kualitas yang terpercaya, sehingga harga yang kita keluarkan dapat sebanding dnegan manfaat dan waktu pemakaiannya.

    6. Gunakan barang hingga habis atau rusak

Beli barang baru ketika barang  lama sudah habis atau rusak. Jangan membeli hanya untuk stok, yang pada kenyataannya akan menumpuk dan mendekati masa kadaluwarsanya

    7. Peduli lingkungan

Dengan menerapkan hidup minimalis secara tidak langsung kita telah berkontribusi pada penyelamatan lingkungan, seorang yang minimalis lebih mengutamakan kualitas barang dari pada barang yang ringkih dan mudah rusak. Barang-barang di produksi secara massal dengan kualitas rendah, tidak ramah lingkungan, serta proses pembuatannya membutuhkan banyak energi dan menghasilkan banyak limbah. Betapa sayang ketika barang tersebut dalam waktu singkat telah berubah menjadi sampah kembali.

Hidup minimalis bukan berarti kita harus hidup dalam keterbatasan. Tetapi justru membawa kebahagiaan dengan merubah mindset dan secara sadar membiasakan diri untuk mempertahankan hal yang benar-benar penting. Mengetahui hal apa yang membuat kita bahagia, yang memudahkan kita dan mempertahankan apa yang berharga bagi kita. Jika kita merasa sesuatu hal yang tidak penting, merugikan atau menyita pikiran, maka jangan ragu untuk merelakannya.

The more you have, the more you are occupied. The less you have, the more free you are. Semakin banyak yang kamu miliki, semakin kamu sibuk. Semakin sedikit yang kamu miliki, kamu semakin bebas. - Mother Teresa.

Foto Penulis

Ditulis oleh :

In'amu Dzakky
Pengajar, desainer motif, pecinta buku-buku psikologi. Alumni UIN Malang.

Lebih lamaTerbaru

Posting Komentar